Langsung ke konten utama

Permasalahan Lingkungan Di Bandung


Daerah aliran sungai (DAS) Cikapundung meliputi wilayah seluas 15.386,5 hektar dengan wilayah administrasi Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung. Sungai Cikapundung berhulu di Gunung Bukit Tunggul, mengalir melalui kota dan mengalir melalui Kabupaten Bandung dan bermuara di Sungai Citarum. Panjang Sungai Cikapundung mencapai 28.000 meter dengan lebar sungai di hulu 22 meter dan di hilir 26 meter.
Debit air minimum 6 meter kubik per detik. Karena ruang lingkup kota yang kecil, tidaklah heran lingkungan, dalam hal ini Sungai Cikapundung, menjadi korban akibat kepadatan penduduk dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Bisa dibayangkan jumlah penduduk yang berdomisili di DAS Cikapundung mencapai 750.559 jiwa, dan jumlah penduduk tertinggi di Kelurahan Tamansari 28.729 jiwa.
Jangankan dipakai minum, untuk menyiram tanaman atau hanya membasahi jalanan pun, Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung sudah tidak layak lagi. Mulai dari hulu hingga hilir, kualitas air sungai yang membelah Bandung tersebut sangat mengkhawatirkan. 
Menurut pendapat saya, masalah-masalah lingkungan yang ada di Bandung termasuk masalah DAS Cikapundung factor penyebab utamanya adalah manusia dan hukum yang berlaku di masyarakat tersebut. budaya yang kurang tertib dalam pengelolaan sampah dan pemukiman menjadi beberapa penyebab masalah tersebut. Melihat kondisi lingkungan yang seperti itu, pelestarian Sungai Cikapundung merupakan hal yang harus segera dilakukan dengan sungguh-sungguh. Hal ini dikarenakan demi menjaga kelangsungan kelestarin lingkungan kota Bandung agar tidak menghadapi ancaman bahaya lingkungan yang disebabkan karena kerusakan sungai Cikapundung, seperti banjir, longsor, kekeringa, dll. Dalam pelestarian tersebut, semua pihak harus ikut serta di dalamnya. Pelestarian sungai Cikapundung pun harus sejalan dengan prinsip-prinsip hukum lingkungan, seperti pinsip keadilan intergenerasi dan intragenerasi prinsip pencegahan dini, dll. Dengan pelaksanaan pelestarian tersebut dan merujuk pada asas maupun prinsip hukum lingkungan niscaya bila peraturan ini dilaksanakan maka kelestarian Sungai Cikapundung akan tetap  terjaga dan pembangunan pun akan tetap seirama dengan kelestarian alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KTM (Kartu Tanda berkeMahasiswaan)

Siapa kamu? kenapa kamu di sini? apa tujuanmu? pertanyaan-pertanyaan ini sudah seharusnya kita tanyakan pada diri kita sendiri yang ngakunya sebagai "Mahasiswa". siapa sih sebenarnya kita? pertanyaan ini merujuk kepada jawaban akan identitas kita, jati diri kita, bukan hanya status. Nah, identitas mahasiswa yang seperti apa sih yang kita miliki? dalam OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa) disampaikan materi mengenai hakikat hidup, identitas mahasiswa, asean community, dan berkemahasiswaan, yang tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai yang baik kepada para mahasiswa baru juga kepada panitianya. seberapa pentingkah materi itu untuk disampaikan? jawabannya sangat penting. coba bayangkan saja seandainya materi tersebut tidak tersampaikan, apakah mereka dapat menentukan identitas dirinya sebagai mahasiswa dengan sendirinya? lalu, isu-isu global yang sedang hangat dibicarakan, apakah mereka memikirkan dan sedang mempersiapkan diri untuk itu? mengenai identitas mahasiswa it...

EFEK GAS RUMAH KACA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN RUMUS CLAUSIUS-CLAYPERON

Gas rumah kaca merupakan gas yang terdapat di atmosfer   yang mereduksi pelepasan panas oleh permukaan bumi dan dapat mempengaruhi temperature global. Atmosfer bumi dapat menyerap radiasi datang matahari kemudian memanaskan bumi. Radiasi yang datang dari matahari sekitar 343 W/   sedangkan yang diserap oleh permukaan bumi sekitar 168 W/ . Gas tersebut sangat penting dalam menjaga suhu di bumi agar tetap bisa ditinggali oleh mahluk hidup, sehingga tanpa adanya gas rumah kaca suhu di bumi akan sangat dingin (sekitar -19 o C). Gas rumah kaca di atmosfer tergolong gas variabel karena konsentrasinya dapat berubah terhadap ruang dan waktu. Jika diurutkan dari yang volumenya tertinggi ke terendah, gas-gas rumah kaca di atmosfer Bumi antara lain uap air (H 2 O), karbon dioksida (CO 2 ), metana (CH 4 ), dinitrogen oksida (N 2 O), chlorofluorocarbon (CFC), dan ozon (O 3 ). Sumber gas rumah kaca paling banyak diakibatkan oleh proses-proses alami dan antropogenik. Sebelum adanya mas...

PROYEKSI PERUBAHAN TEMPERATUR GLOBAL TERHADAP KENAIKAN MUKA LAUT DI PULAU - PULAU DI INDONESIA 100 TAHUN MENDATANG.

Nama: Lilik Bayyinah NIM: 12813031 Hasil analisis proyeksi SPL memperlihatkan adanya kenaikan rata-rata mencapai 1–1.2 °C pada tahun 2050 relatif terhadap SPL tahun 2000 (Bappenas, 2010b). Tren kenaikan ini masih dalam rentang kenaikan temperatur global sehingga cukup konsisten dengan hasil analisis model-model AR4-IPCC untuk temperature permukaan. Meskipun demikian, seperti dijelaskan sebelumnya, pengaruh keragaman iklim global terhadap variasi SPL di perairan Indonesia sangat signifikan. Sebagai contoh, kejadian El Nino dan DM (+) kuat pada tahun 1997/98 menyebabkan perubahan yang sangat besar terhadap lingkungan perairan Indonesia yang berakibat kepada kerusakan terumbu karang. Kenaikan TML atau sea lever rise (SLR) memberikan potensi ancaman yang sangat besar terhadap Indonesia yang terdiri dari banyak pulau besar dan kecil. Pada tahun 2050, SLR akibat pemanasan global diproyeksikan mencapai 35–40 cm relatif terhadap nilai tahun 2000. Berdasarkan hasil ini, SLR maksi...