Langsung ke konten utama

EFEK GAS RUMAH KACA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN RUMUS CLAUSIUS-CLAYPERON


Gas rumah kaca merupakan gas yang terdapat di atmosfer  yang mereduksi pelepasan panas oleh permukaan bumi dan dapat mempengaruhi temperature global. Atmosfer bumi dapat menyerap radiasi datang matahari kemudian memanaskan bumi. Radiasi yang datang dari matahari sekitar 343 W/ sedangkan yang diserap oleh permukaan bumi sekitar 168 W/. Gas tersebut sangat penting dalam menjaga suhu di bumi agar tetap bisa ditinggali oleh mahluk hidup, sehingga tanpa adanya gas rumah kaca suhu di bumi akan sangat dingin (sekitar -19 oC).
Gas rumah kaca di atmosfer tergolong gas variabel karena konsentrasinya dapat berubah terhadap ruang dan waktu. Jika diurutkan dari yang volumenya tertinggi ke terendah, gas-gas rumah kaca di atmosfer Bumi antara lain uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), chlorofluorocarbon (CFC), dan ozon (O3).
Sumber gas rumah kaca paling banyak diakibatkan oleh proses-proses alami dan antropogenik. Sebelum adanya masa industry, gas di atmosfer konstan. Tetapi sejak revolusi industry, gas-gas di atmosfer meningkat salah satunya adalah gas CO2.  Saat ini gas karbon dioksida mencapai 380 ppm (0,038%) sedangkan sebelumnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer Bumi sekitar 280 ppm (0,028%). Meskipun gas rumah kaca berperan secara signifikan, namun meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer dapat mempengaruhi penyerapan radiasi matahari di permukaan bumi. Sehingga semakin banyak radiasi gelombang panjang dari permukaan Bumi yang diserap dan dipancarkan kembali ke permukaan Bumi. Akibatnya, radiasi yang diserap oleh permukaan Bumi semakin banyak dan suhu permukaan Bumi akan meningkat seiring berjalannya waktu.

Rumus Clausius-Clapeyron menghubungkan antara tekanan uap air jenuh dengan temperature.
Persamaan tersebut menyatakan bahwa udara yang lebih panas mempunyai potensi untuk menyimpan lebih banyak uap air per satuan volume. Contoh sederhana, udara dengan suhu 300C bias menyipan sekitar 3.5 kali lebih banyak uap air dibandingkan dengan udara bersuhu  10 oC. pemodelan iklim saat ini memprediksi bahwa meningkatnya konsentrasi uap air di udara yang lebih hangat akan meningkatkan efek rumah kaca yang disebabkan oleh CO2.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KTM (Kartu Tanda berkeMahasiswaan)

Siapa kamu? kenapa kamu di sini? apa tujuanmu? pertanyaan-pertanyaan ini sudah seharusnya kita tanyakan pada diri kita sendiri yang ngakunya sebagai "Mahasiswa". siapa sih sebenarnya kita? pertanyaan ini merujuk kepada jawaban akan identitas kita, jati diri kita, bukan hanya status. Nah, identitas mahasiswa yang seperti apa sih yang kita miliki? dalam OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa) disampaikan materi mengenai hakikat hidup, identitas mahasiswa, asean community, dan berkemahasiswaan, yang tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai yang baik kepada para mahasiswa baru juga kepada panitianya. seberapa pentingkah materi itu untuk disampaikan? jawabannya sangat penting. coba bayangkan saja seandainya materi tersebut tidak tersampaikan, apakah mereka dapat menentukan identitas dirinya sebagai mahasiswa dengan sendirinya? lalu, isu-isu global yang sedang hangat dibicarakan, apakah mereka memikirkan dan sedang mempersiapkan diri untuk itu? mengenai identitas mahasiswa it...

PROYEKSI PERUBAHAN TEMPERATUR GLOBAL TERHADAP KENAIKAN MUKA LAUT DI PULAU - PULAU DI INDONESIA 100 TAHUN MENDATANG.

Nama: Lilik Bayyinah NIM: 12813031 Hasil analisis proyeksi SPL memperlihatkan adanya kenaikan rata-rata mencapai 1–1.2 °C pada tahun 2050 relatif terhadap SPL tahun 2000 (Bappenas, 2010b). Tren kenaikan ini masih dalam rentang kenaikan temperatur global sehingga cukup konsisten dengan hasil analisis model-model AR4-IPCC untuk temperature permukaan. Meskipun demikian, seperti dijelaskan sebelumnya, pengaruh keragaman iklim global terhadap variasi SPL di perairan Indonesia sangat signifikan. Sebagai contoh, kejadian El Nino dan DM (+) kuat pada tahun 1997/98 menyebabkan perubahan yang sangat besar terhadap lingkungan perairan Indonesia yang berakibat kepada kerusakan terumbu karang. Kenaikan TML atau sea lever rise (SLR) memberikan potensi ancaman yang sangat besar terhadap Indonesia yang terdiri dari banyak pulau besar dan kecil. Pada tahun 2050, SLR akibat pemanasan global diproyeksikan mencapai 35–40 cm relatif terhadap nilai tahun 2000. Berdasarkan hasil ini, SLR maksi...