Langsung ke konten utama

Diksar PKKM 2 "Lelah fisik tidak sama dengan lelah mental dan spiritual".

Sabtu, 13 September 2014.
Adat yang aneh, tapi lucu sih, tapi bikin cape juga sih. Ngetrill, hal yang harus dilakukan saat melapor kepada danlap. Selasar Kebab tempat kami berkumpul untuk hari ini.
mobilisasi, lagi-lagi mobilisasi, padahalkan baru aja nyantai-nyantai dengan jendral-jendril yang bertugas sebagai taplok. Ah ya sudahlah apa boleh buat.
Tempat kedua, entah itu apa nama tempatnya yang pasti nyaman untuk bersantai. Presentasi hasil diskusi kita tadi malem. Oke Hanif silahkan presentasi mewakili kelompok 2, yang lain menyimak dan kadang memberikan tanggapan atau pertanyaan. Selesai presentasi, langsung diburu pertanyaan oleh jendral-jendral yang menjadi penanggungjawab kegiatan diskusi kali ini. Diskusi yang sangat seru dan menarik, pasalnya ini merupakan masalah yang sering dibicarakan oleh banyak kalangan masyarakat, dan masalah ini merupaka masalah yanng sangat kompleks. Yap apalagi kalau bukan banjir, masalah meteorologis yang kompleks. Dalam diskusi ini banyak ide-ide hebat dari masing-masing kelompok sebagai solusi mengatasi hal tersebut. Mungkin bukan solusi untuk mengatasi hal tersebut sih, tapi solusi yang setidaknya mengurangi masalah banjir.
Tempat ke 3, selasar Double Helix. Tempat yang paling memaksa untuk kita agar berpikir, dan kritis. Di didik untuk jadi lebih bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas. Oke saya mengakui kesalahan saya dan kelalaian saya dalam menjalankan tugas. Dilatih juga kesigapan dalam baris-berbaris, ketegasan dalam berbicara. Diuji keluwesan berpikir, diuji fisik juga, diuji kekeluargaan dan kekompakan. Arg... ini melelahkan, tapi ngga boleh ngeluh. Karena saya yakin ini metode yang cukup ampuh melaksanakan tujuan tersebut, selain itu melatih mental kita agar makin kuat, dan saya yakin bahwa saat kita dilemahkan secara fisik saat itu pulalah kita dikuatkan secara mental dan spiritual jika kita ikhlas dan bersabar menjalaninya. Semoga..
Lanjut materi kembali di tempat yang sama pada saat presentasi. Kali ini bahasannya adalah pengabdian masyarakat. Zephyrus, kegiatan pengabdian masyarakat berupa riset skala besar dari HMME yang fokus terhadap permasalahan banjir Bandung Selatan. Kegiatan ini adalah program kegiatan yang berkelanjutan. Tujuan dari Zephyrus sendiri adalah mengembangkan kemampuan anggota-anggotanya, dan mengenalkan meteorologi ke masyarakat. Output dari kegiatan ini adalah adanya EWS (Early Warning System) banjir. Kajian yang dilakukan oleh Zephyrus berupa banjir, hidrografi sungai, geometri sungai, tata guna lahan, dan parameter meteorologi.
Materi tentang Zephyrus selesai, kita balik lagi ke tempat dimana kita belajar memperkuat mental. kali ini saya cuma bisa diam karena menahan sakit maag saya dan ngga fokus sama apa yang danlap bicarakan. Maafkan saya jendral. Tapi saya inget dengan kritikan dari jendral mengenai tugas peta yang diberikan ke kita. Aduh selebihnya saya tidak menyimak, sekali lagi saya minta maaf.

Terakhir diberi tugas untuk membuat blog dan menuliskan review dari awal kegiatan PKKM dan tugas untuk mewawancarai 1 jendral dan 1 jendril. Oke mungkin itu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KTM (Kartu Tanda berkeMahasiswaan)

Siapa kamu? kenapa kamu di sini? apa tujuanmu? pertanyaan-pertanyaan ini sudah seharusnya kita tanyakan pada diri kita sendiri yang ngakunya sebagai "Mahasiswa". siapa sih sebenarnya kita? pertanyaan ini merujuk kepada jawaban akan identitas kita, jati diri kita, bukan hanya status. Nah, identitas mahasiswa yang seperti apa sih yang kita miliki? dalam OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa) disampaikan materi mengenai hakikat hidup, identitas mahasiswa, asean community, dan berkemahasiswaan, yang tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai yang baik kepada para mahasiswa baru juga kepada panitianya. seberapa pentingkah materi itu untuk disampaikan? jawabannya sangat penting. coba bayangkan saja seandainya materi tersebut tidak tersampaikan, apakah mereka dapat menentukan identitas dirinya sebagai mahasiswa dengan sendirinya? lalu, isu-isu global yang sedang hangat dibicarakan, apakah mereka memikirkan dan sedang mempersiapkan diri untuk itu? mengenai identitas mahasiswa it...

EFEK GAS RUMAH KACA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN RUMUS CLAUSIUS-CLAYPERON

Gas rumah kaca merupakan gas yang terdapat di atmosfer   yang mereduksi pelepasan panas oleh permukaan bumi dan dapat mempengaruhi temperature global. Atmosfer bumi dapat menyerap radiasi datang matahari kemudian memanaskan bumi. Radiasi yang datang dari matahari sekitar 343 W/   sedangkan yang diserap oleh permukaan bumi sekitar 168 W/ . Gas tersebut sangat penting dalam menjaga suhu di bumi agar tetap bisa ditinggali oleh mahluk hidup, sehingga tanpa adanya gas rumah kaca suhu di bumi akan sangat dingin (sekitar -19 o C). Gas rumah kaca di atmosfer tergolong gas variabel karena konsentrasinya dapat berubah terhadap ruang dan waktu. Jika diurutkan dari yang volumenya tertinggi ke terendah, gas-gas rumah kaca di atmosfer Bumi antara lain uap air (H 2 O), karbon dioksida (CO 2 ), metana (CH 4 ), dinitrogen oksida (N 2 O), chlorofluorocarbon (CFC), dan ozon (O 3 ). Sumber gas rumah kaca paling banyak diakibatkan oleh proses-proses alami dan antropogenik. Sebelum adanya mas...

PROYEKSI PERUBAHAN TEMPERATUR GLOBAL TERHADAP KENAIKAN MUKA LAUT DI PULAU - PULAU DI INDONESIA 100 TAHUN MENDATANG.

Nama: Lilik Bayyinah NIM: 12813031 Hasil analisis proyeksi SPL memperlihatkan adanya kenaikan rata-rata mencapai 1–1.2 °C pada tahun 2050 relatif terhadap SPL tahun 2000 (Bappenas, 2010b). Tren kenaikan ini masih dalam rentang kenaikan temperatur global sehingga cukup konsisten dengan hasil analisis model-model AR4-IPCC untuk temperature permukaan. Meskipun demikian, seperti dijelaskan sebelumnya, pengaruh keragaman iklim global terhadap variasi SPL di perairan Indonesia sangat signifikan. Sebagai contoh, kejadian El Nino dan DM (+) kuat pada tahun 1997/98 menyebabkan perubahan yang sangat besar terhadap lingkungan perairan Indonesia yang berakibat kepada kerusakan terumbu karang. Kenaikan TML atau sea lever rise (SLR) memberikan potensi ancaman yang sangat besar terhadap Indonesia yang terdiri dari banyak pulau besar dan kecil. Pada tahun 2050, SLR akibat pemanasan global diproyeksikan mencapai 35–40 cm relatif terhadap nilai tahun 2000. Berdasarkan hasil ini, SLR maksi...