Langsung ke konten utama

PROYEKSI PERUBAHAN TEMPERATUR GLOBAL TERHADAP KENAIKAN MUKA LAUT DI PULAU - PULAU DI INDONESIA 100 TAHUN MENDATANG.

Nama: Lilik Bayyinah
NIM: 12813031



Hasil analisis proyeksi SPL memperlihatkan adanya kenaikan rata-rata mencapai 1–1.2 °C pada tahun 2050 relatif terhadap SPL tahun 2000 (Bappenas, 2010b). Tren kenaikan ini masih dalam rentang kenaikan temperatur global sehingga cukup konsisten dengan hasil analisis model-model AR4-IPCC untuk temperature permukaan. Meskipun demikian, seperti dijelaskan sebelumnya, pengaruh keragaman iklim global terhadap variasi SPL di perairan Indonesia sangat signifikan. Sebagai contoh, kejadian El Nino dan DM (+) kuat pada tahun 1997/98 menyebabkan perubahan yang sangat besar terhadap lingkungan perairan Indonesia yang berakibat kepada kerusakan terumbu karang.

Kenaikan TML atau sea lever rise (SLR) memberikan potensi ancaman yang sangat besar terhadap Indonesia yang terdiri dari banyak pulau besar dan kecil. Pada tahun 2050, SLR akibat pemanasan global diproyeksikan mencapai 35–40 cm relatif terhadap nilai tahun 2000. Berdasarkan hasil ini, SLR maksimum di Indonesia dapat mencapai 175 cm pada tahun 2100 (Bappenas, 2010b). Berdasarkan hasil tersebut, dan dengan memperhitungkan faktor variabilitas iklim, rangkuman proyeksi SLR untuk wilayah Indonesia dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tren ini kemungkinan tidak linier tetapi dapat bersifat eksponensial apabila faktor pencairan es (dynamic ice melting) diperhitungkan. Error! Reference source not found. memperlihatkan hasil perhitungan laju SLR ratarata untuk wilayah perairan Indonesia apabila memasukkan pengaruh faktor pencairan es. Berdasarkan hasil ini, SLR maksimum di Indonesia dapat mencapai 175 cm pada tahun 2100 (Bappenas, 2010b).
2030
22.5±1.5cm
Sedang
2050
37.5±2.5cm
Sedang
2080
60.0±4.0cm
Tinggi
2100
80.0±5.0cm
Tinggi
Tabel 1 Proyeksi Kenaikan Rata-Rata TML Tanpa Penambahan Dynamic Ice Melting di Perairan Indonesia (Bappenas, 2010b).

Kerentanan suatu wilayah terhadap perubahan iklim perlu memperhatikan berbagai analisa iklim yang terdiri dari perubahan variabilitas dan proyeksi iklim, serta karakteristik wilayah yang ada seperti kepadatan penduduk, sensitifitas ekologi dan kapasitas adaptif yang merupakan fungsi dari sosio ekonomi, teknologi dan infrastruktur. Berdasarkan beberapa kajian yang ada, wilayah Indonesia yang rentan utamanya adalah wilayah barat dan selatan Sumatera; barat dan timur Jawa; Papua; hampir semua wilayah Bali Nusa Tenggara, Kalimantan bagian utara; serta Sulawesi bagian utara. Wilayah Jakarta merupakan wilayah sangat rentan dan juga paling rentan di wilayah Asia Tenggara. Kerentanan Jakarta utamanya disebabkan oleh kejadian banjir di wilayah yang padat penduduk meskipun mempunyai kapasitas adaptif yang tinggi. Hal yang sama terjadi untuk wilayah Jawa bagian barat lainnya yang rentan karena bahaya banjir dan longsor serta faktor kepadatan penduduknya. Sedangkan Wilayah Papua khususnya Jayawijaya dan Puncak Jaya juga rentan terutama karena kapasitas adaptifnya yang rendah dan frekuensi dan keterpaparan terhadap bencana longsor yang tinggi. Di samping itu, wilayah pesisir selatannya
juga terdampak oleh kenaikan permukaan air laut yang cukup signifikan (hingga mencapai ketinggian 5m). Selanjutnya, hasil identifikasi wilayah rentan yang ada perlu terus diperdalam dan disinergikan antar sector agar didapat gambaran yang lebih menyeluruh.

Tabel 2.7 Lima puluh Wilayah Terentan terhadap Perubahan Iklim Indonesia
(Sida, 2009)
1. DKI Jakarta
26. Kab. Aceh Tenggara
2. Kota Bandung
27. Kota Balikpapan
3. Kota Surabaya
28. Kab. Bekasi
4. Kota Bekasi
29. Kab. Paniai
5. Kota Bogor
30. Kab. Bengkulu Selatan
6. Kota Depok
31. Kab. Bangkalan
7. Kota Palembang
32. Kab. Purwakarta
8. Kota Tangerang
33. Kab. Sidoarjo
9. Kab. Tangerang
34. Kab. Tanggamus
10. Kab. Lampung Barat
35. Kab. Majalengka
11. Kab. Jayawijaya
36. Kab. Ponorogo
12. Kota Malang
37. Kota Blitar
13. Kab. Puncak Jaya
38. Kab. Tasikmalaya
14. Kab. Jembrana
39. Kab. Aceh Selatan
15. Kab. Bogor
40. Kota Madiun
16. Kab. Garut
41. Kab. Serang
17. Kab. Lebak
42. Kab. Dairi
18. Kab. Bandung
43. Kab. Gorontalo
19. Kab. Sumedang
44. Kab. Sampang
20. Kab. Sukabumi
45. Kab. Magetan
21. Kab. Cianjur
46. Kab. Indramayu
22. Kab. Buleleng
47. Kab. Ciamis
23. Kab. Pandeglang
48. Kab. Madiun
24. Kab. Tanjung Jabung
49. Kab. Lahat
25. Kab. Karawang
50. Kab. Lombok TImur
N

Sumber: Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API). Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) 2014. 

Komentar

  1. Hallo Blogger Indramayu, Salam kenal.. ^_^
    Jangan lupa, orang indramayu wajib follow http://www.indramayu.top Galeri Foto Indramayu
    Terima Kasih..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KTM (Kartu Tanda berkeMahasiswaan)

Siapa kamu? kenapa kamu di sini? apa tujuanmu? pertanyaan-pertanyaan ini sudah seharusnya kita tanyakan pada diri kita sendiri yang ngakunya sebagai "Mahasiswa". siapa sih sebenarnya kita? pertanyaan ini merujuk kepada jawaban akan identitas kita, jati diri kita, bukan hanya status. Nah, identitas mahasiswa yang seperti apa sih yang kita miliki? dalam OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa) disampaikan materi mengenai hakikat hidup, identitas mahasiswa, asean community, dan berkemahasiswaan, yang tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai yang baik kepada para mahasiswa baru juga kepada panitianya. seberapa pentingkah materi itu untuk disampaikan? jawabannya sangat penting. coba bayangkan saja seandainya materi tersebut tidak tersampaikan, apakah mereka dapat menentukan identitas dirinya sebagai mahasiswa dengan sendirinya? lalu, isu-isu global yang sedang hangat dibicarakan, apakah mereka memikirkan dan sedang mempersiapkan diri untuk itu? mengenai identitas mahasiswa it...

EFEK GAS RUMAH KACA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN RUMUS CLAUSIUS-CLAYPERON

Gas rumah kaca merupakan gas yang terdapat di atmosfer   yang mereduksi pelepasan panas oleh permukaan bumi dan dapat mempengaruhi temperature global. Atmosfer bumi dapat menyerap radiasi datang matahari kemudian memanaskan bumi. Radiasi yang datang dari matahari sekitar 343 W/   sedangkan yang diserap oleh permukaan bumi sekitar 168 W/ . Gas tersebut sangat penting dalam menjaga suhu di bumi agar tetap bisa ditinggali oleh mahluk hidup, sehingga tanpa adanya gas rumah kaca suhu di bumi akan sangat dingin (sekitar -19 o C). Gas rumah kaca di atmosfer tergolong gas variabel karena konsentrasinya dapat berubah terhadap ruang dan waktu. Jika diurutkan dari yang volumenya tertinggi ke terendah, gas-gas rumah kaca di atmosfer Bumi antara lain uap air (H 2 O), karbon dioksida (CO 2 ), metana (CH 4 ), dinitrogen oksida (N 2 O), chlorofluorocarbon (CFC), dan ozon (O 3 ). Sumber gas rumah kaca paling banyak diakibatkan oleh proses-proses alami dan antropogenik. Sebelum adanya mas...